Home / Religi

Kamis, 10 Juni 2021 - 03:23 WIB

Cara Membedakan Habib Sebenarnya

Ilustrasi Habib

Ilustrasi Habib

Bagi sebagian masyarakat awam mungkin akan merasa sulit untuk membedakan antara habib asli dan palsu karena masih melihat dari sisi fisik, tampilan luar seperti penggunaan jubah, gamis, imamah serta memiliki tampang Timur Tengah.

Ada sebuah cara yang bisa digunakan untuk memastikan seseorang bergelar habib.   “Cara paling tepat atau valid untuk cek kebenaran habib asli atau palsu adalah dengan mendatangi Rabithah Alawiyah yaitu organisasi yang menghimpun WNI yang memiliki keturunan langsung dengan Rasulullah SAW.”

Belum lama ini di Cibitung, Bekasi, ada orang yang mengaku dirinya sebagai habib namun ketika dicek oleh para habib ternyata mereka tidak ada yang mengenalinya. Padahal, biasanya seorang habib saling mengenal satu sama lain karena mereka masih punya pertalian nasab.

BACA JUGA:   Bolehkah Niat Qadha Puasa Ramadhan Sekaligus Puasa Syawal?

Pada dasarnya, habib adalah dzuriyyah rasul atau keturunan Rasulullah saw melalui jalur Sayyidina Ali dan Sayyidatuna Fatimatuh, kemudian putra Sayyidina Hasan dan Husen lalu menurunkan generasi di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.

Habib bermakna orang yang dicintai dan mencintai, habib juga bisa jadi isim fail (pelaku) atau isim maf`ul (objek), artinya ketika seorang habib memiliki sifat dasar cinta dalam hatinya maka perilaku dan ahlaknya harus sesuai dengan gelar yang disandangnya apalagi di belakang nama habib ada nama besar Rasulullah SAW di belakangnya.

BACA JUGA:   Kepala Balitabang Keagamaan Makassar Apresiasi Kemenag Sultra Soal KUB

TIGA Kategori Habib :

Pertama, habib asli dan alim. Habib yang semacam itu, menurutnya, harus dihormati serta dimuliakan karena di dalam dirinya mengalir darah Rasulullah SAW. Oleh karena itu masyarakat perlu tunduk terhadap pendapat habib tersebut karena keilmuan yang ia miliki.

Kedua, habib asli tapi tidak alim, yaitu habib yang kurang memahami ilmu agama karena tidak pernah mengenyam pendidikan baik di sekolah maupun pesantren. Kepada habib golongan kedua ini, kita harus tetap takzim dan menghormatinya.   “Terhadap orang yang mengaku habib tetap harus husnudhan meskipun ahlaknya tidak bagus dan masyarakat tidak perlu tunduk terhadap perintahnya apalagi kalau mengajak maksiat, jangan diikuti.”

BACA JUGA:   Belajar Dari Keberhasilan Dakwah Rasulullah

Ketiga, habib palsu. Kiai Usamah menilai orang yang sekadar mengaku dirinya habib, ahlaknya tidak baik dan setelah dicek kebenarannya ternyata bukan habib asli, maka tinggalkan saja tanpa perlu menghina, membully karena dia tetaplah manusia yang harus dihormati.

“Tiga hal itu bisa menjadi landasan menghadapi habib atau orang yang mengaku habib agar tidak salah dalam mengambil suri teladan, sebab masih banyak habib yang ahlaknya luhur dan mulia, ilmunya tinggi, dan habib yang sudah jelas keasliannya.”

Oleh : Kiai Usamah Zahid

Direktur Aswaja NU Center Kabupaten Bekasi,

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/129288/cara-membedakan-habib-asli-dan-habib-palsu-menurut-kiai-usamah

Share :

Baca Juga

Religi

Pentingnya Sowan Kepada Kiyai

Nasional

Menag RI Harap Penyaluran Zakat Tidak Dengan Kerumunan

Asumsi Rakyat

Kemenag : Panduan Ibadah Ramadhan tak Berlaku di Zona Orange dan Merah

Religi

SALAT TANPA BERSUCI DALAM GENEALOGI HUKUM ISLAM

Asumsi Rakyat

13 Dosa Besar Suami Kepada Istri yang Paling Dibenci Allah

Asumsi Rakyat

Pemerintah Aceh Larang Masyarakat Bermain Game Di Bulan Ramadhan

Religi

Arti Mimpi Gigi Copot atau Goyang

Daerah

Sukseskan Bazar Ramadhan Kendari Preneur, Bappeda Kendari Gelar Bazar