Home / Kolom Asumsi

Rabu, 13 Januari 2021 - 22:05 WIB

Di Masa Muda, Media Sosial Sebagai Sarana Terbaik Untuk Berkarya

Beberapa orang berfikir bahwa menikmati masa muda itu hanya sebatas bersenang-senang. Mungkin fikiran mereka karena, masa muda tidak akan terulang untuk kedua kalinya. Namun di sisi  lain beberapa orang lainnya berfikir, masa muda harus digunakan dengan mengejar materi saja, tanpa berfikir mengembangkan ilmu pengetahuan. Ada juga yang berfikir, masa muda adalah tidur disiang hari. Lalu bermimpi menjadi orang sukses tanpa berbuat apa-apa.

Masa muda adalah laboratorium kehidupan untuk mencoba berbagai macam hal yang belum jelas pencapainnya. Entah itu berhasil ataupun tidak!! Masa  muda adalah masa dimana dimana pemikiran dan hati selalu bertentangan, gerak dan arah tubuh tidak sejalan serta harapan dan kenyataanpun tidak sepaham.

Memang Ihwal itu semua itu pasti, namun bukan bagaimana cara untuk menghindar, tetapi lebih bagaimana cara kita untuk menghadapi, belajar dan berkarya dimasa muda itu murah bagi yang peduli dan mahal bagi yang idaak peduli. Ingat !! masa depan adalah milik mereka yang menyiapkan diri hari ini. Seperti kata bapak dahlan iskan “Setiap orang mempunyai jatah gagal, habiskan jatah gagalmu ketika kamu masih muda”.

BACA JUGA:   Refleksi Hari Tani Nasional Kini dan Nanti

Berbicara tentang karya tentu bukan hanya sekadar ikut-ikutan dan persoalan instant, semua pasti didasari dengan keahlian yang terus dikembangkan dengan penuh keyakinan dan ketekunan. Namun yang lebih menarik adalah sebuah stategment bahwa karya tidak hanya sekadar menjadi karya, tetapi juga dapat menghasilkan.

Ada banyak media yang dapat kita manfaatkan sebagai wadah untuk berkarya, tidak hanya sebatas karya, tetapi juga dapat menghasilkan. Seperti halnya berkarya melalui media sosial, kita dapat mengmanfaatkan media sosial untuk berkarya sekaligus menghasilkan, YouTube dan Instagram misalnya. Diyoutube kita dapat menentukan konten apa yang akan di sajikan, tak harus berfokus dengan hasil yang akan didapatkan dari youtube terlebih dahulu, jika terus konsisten maka akan dapat menghasilkan pula, dan anggaplah hasil (adsense) yang didapatkan dari youtube sebagai bonus dari karya kita, 1000 subscribe dan 4000× jam tayang menjadi syarat untuk monetisasi channel youtube saat ini sehingga dapat menghasilkan

BACA JUGA:   Randi dan Yusuf, Aktivis Sebenarnya Versi Munir

Saat ini Instagram, tidak sedikit pengguna hanya menjadikan sebatas sarana mensosialisasikan diri ataupun sebagainya.  Jika kita manfaatkan secara baik, Instagram dapat menghasilkan uang melalui karya yang kita sajikan, bagaimana bisa? Tidak sedikit akun akun Instagram saat ini yang menyajikan konten konten menarik bermunculan, baik itu konten musik, quotes, dakwah, berita, komedi, dan sebagainya. Lalu apa hubungannya dengan penghasilan? Ya disitulah hal yang dapat dimanfaatkan dari Instagram, jika kita memiliki konten yang menarik, dan memiliki follower yang terbilang cukup banyak maka tidak menutup kemungkinan akan banyak tawaran tawaran iklan (PaidPromote/Endorsment) yang bermunculan.

Begitu juga dengan Facebook, Twitter, maupun Tiktok yang sedang booming, saya kira tidak jauh berbeda. Sehingga itu, kita harusnya lebih jeli melihat peluang tersebut agar karya kita bisa kemudian menjadi sumber penghasilan.

BACA JUGA:   Randi dan Yusuf, Aktivis Sebenarnya Versi Munir

Maka dari itu, setiap dari kita membutuhkan sesuatu yang disebut personal branding. Secara sederhana, personal branding yang di maksudkan adalah kegiatan memberi tahu publik atau dunia tentang siapa kita. Melalui arus inilah yang akan membawa seseorang untuk berhenti mengejar uang dan membuat uang yang akan mengejar kita. Karena uang tahu siapa kita.

Sedikit mengutip perkataan B.J. Habibie: “Ketika muda kita habisi dengan bermalas-malasan maka tua juga akan malas-malasan lalu tak terasa besok mati, namun kalau kita banyak belajar dan banyak analisis maka saat dia tua dia menang”.


*****
*) Oleh : Akram Dian (Mahasiswa IAIN Kendari)
*) Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis.
*) Kolom Opini ini terbuka untuk umum, dengan menuliskan opini maksimal 850 kata dan mengirimkan ke e-mail asumsirakyat@gmail.com, serta melampirkan foto, kontak dan riwayat diri secara singkat

Share :

Baca Juga

Kolom Asumsi

Lafal Dzikir Menjelang Tidur

Kolom Asumsi

Randi dan Yusuf, Aktivis Sebenarnya Versi Munir

E-Koran

E-Koran Edisi #10

Kolom Asumsi

Hari Pahlawan Jangan Hanya Sekedar Perayaan

Kolom Asumsi

Refleksi Hari Tani Nasional Kini dan Nanti

Kolom Asumsi

Menyepi itu Penting, Mengapa?

Asumsi Rakyat

Memupuk Solidaritas Ditengah Wabah Pandemi

Kolom Asumsi

Pemuda Bangkit Berikan Hal Positif Untuk Bangsa