Home / Kolom Asumsi

Kamis, 14 Januari 2021 - 15:57 WIB

Edupreneurship Menjawab Tantangan Pendidikan Abad XXI

Agus Sugito, S.Th.I., M.Pd, Anggota Lembaga Dakwah PWNU Sultra.

Agus Sugito, S.Th.I., M.Pd, Anggota Lembaga Dakwah PWNU Sultra.

Era globalisasi yang ditandai oleh setidaknya empat hal mendasar, diantaranya; 1). Perkembangan dan kemajuan teknologi di segala aspek, 2). Geliat ekonomi internasional yang kompetitif, 3). Meningkatnya masalah bersama seperti pemanasan global akibat efek kaca, kerusakan lingkungan alam akibat pencemaran limbah industri, maupun semakin menyusutnya sumber daya alam dunia, akibat eksploitasi tanpa kendali dan revitalisasi, dan 4). Interaksi multibudaya antar bangsa yang semakin tanpa batas. Kondisi yang demikian menuntut setiap individu dari berbagai lapisan masyarakat untuk meningkatkan kompetensi sesuai dengan profesi, bidang dan keterampilannya.

Mempertahankan mindset zona nyaman (comfort zone) menjadi tidak relevan lagi. Zona nyaman merupakan bagian dari masalah psikologi dasar manusia. Menurut pakar Behavioural Psychology A. K. White dalam bukunya From Comfort Zone to Performance Management mengatakan bahwa, zona nyaman adalah sebuah keadaan dimana seseorang merasa terbiasa dan nyaman karena mampu mengontrol lingkungannya. Jadi, hal apapun yang membuat kita nyaman dan enggan beranjak karena takut terjadi sesuatu jika meninggalkannya adalah merupakan zona nyaman.

Semua harus berani meninggalkan zona nyaman untuk keluar menantang perubahan yang terjadi. Keberanian untuk keluar dari zona nyaman jelas bukan persoalan mudah, mengingat pada umumnya orang cenderung nyaman dengan zona yang sudah sekian lama dijalani. Hanya orang yang berani menantang risiko dan ingin maju yang berani melepaskan zona nyamannya.
Tantangan Pendidikan Indonesia di Abad XXI.

Hal yang kurang lebih sama juga terjadi di kalangan pendidik (Guru, Dosen), yakni keengganan untuk meninggalkan zona zaman. Mengapa? Tidak lain karena faktor tidak mau repot dengan tantangan dan tuntutan yang ada. Pendidik tidak boleh stagnan, tetapi harus terus meng-upgrade diri. Pendidik adalah ujung tombak dari pelaksana pendidikan yang diharapkan mampu melahirkan generasi milenial yang mampu bersaing dalam kanca global/internasional.

Hal-hal tersebut merupakan tantangan yang tidak bisa dijawab dengan diskusi-diskusi ilmiah maupun kebijakan normatif, tanpa adanya gerakan nyata dalam merealisasikan solusinya secara terukur dan sistematis. Untuk itu lembaga pendidikan yang menjadi institusi penyedia masyarakat intelektual harus mampu menjawab tantangan tersebut dengan merubah arah dan orientasi pendidikannya, bukan saja pada jenjang institusi perguruan tinggi, namun justru harus dimulai dari tingkat pendidikan paling dasar sampai ke jenjang menengah atas atau yang sederajat. Supaya kontinuitas penyerapan ilmu pengetahuan dan keterampilan berjalan secara korelatif dan sistematis.

Kementerian Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa Pendidikan pada abad XXI harus dapat mempersiapkan dan menjamin peserta didik supaya memiliki keterampilan belajar dan berinovasi, keterampilan menggunakan dan memanfaatkan teknologi dan media informasi, dapat bekerja dan bertahan dengan menggunakan kecakapan hidup (life skill). Kecakapan hidup yang dikenal dengan konsep adversity quotient ini sangat diperlukan.

BACA JUGA:   Randi dan Yusuf, Aktivis Sebenarnya Versi Munir

Memperjelas seberapa pentingnya muatan edupreneurship ini harus mengintegrasi dalam proses pembelajaran di lembaga pendidikan kita, Penulis mengajak para pembaca semua untuk kembali memperhatikan penjelasan dari sejumlah organisasi dan institusi, semacam US-Based Partnership for 21st Century Skills (P21), tentang beberapa kompetensi yang harus dimiliki atau minimal diperjuangkan oleh manusia abad XXI, diantaranya terangkum dalam The 4Cs: communication, collaboration, critical thinking, and creativity. Adapun kecakapan abad XXI harus dikembangkan melalui: (1) Kecakapan berpikir kritis dan pemecahan masalah (Critical Thinking and Problem Solving Skill), (2) Kecakapan berkomunikasi (Communication Skills), (3) Kecakapan kreativitas dan inovasi (Creativity and innovation), dan (4) Kecakapan kolaborasi (Collaboration).
Mengapa Edupreneurship Penting Dalam Pendidikan?

Edupreneurship atau penanaman nilai-nilai kewirausahaan dalam dunia pendidikan, atau dalam pemaknaaan lain pendidikan kewirausahaan, merupakan aspek penting dalam menjawab berbagai tantangan yang sudah disebutkan sebelumnya. Edupreneurship merupakan gabungan konsep implementatif dari education dan entrepreneurship. Education yang bermakna pendidikan dan entrepreneurship yang bermakna kewirausahaan, adalah proses pembelajaran yang berfokus pada kegiatan berwirausaha baik secara teori maupun praktik.

Sekian banyak teori tentang kewirausahaan, Penulis merujuk pendapat salah satu ilmuwan, Suryana, dalam Kewirausahaan; Kiat dan Proses Menuju Sukses (2013), entrepreneurship merupakan suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi untuk memecahkan dan mencari peluang dari masalah yang dihadapi oleh setiap orang maupun kelompok dalam kehidupan sehari-hari. Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat ide baru dengan mengkombinasikan, mengubah, atau merekonstruksi ide-ide lama. Sedangkan inovasi merupakan penerapan dari penemuan suatu proses produksi baru atau pengenalan akan suatu produk baru.

Entrepreneurship yang menjadi basis pengembangan edupreneur merupakan sikap mental dan jiwa yang selalu aktif serta kreatif, berdaya, bercipta, berkarya, bersahaja, dan berusaha dalam rangka meningkatkan pendapatan atas kegiatan usahanya. Sementara wirausaha dimaknai sebagai orang yang terampil memanfaatkan peluang dalam mengembangkan usahanya dengan tujuan untuk meningkatkan kehidupannya. Jiwa dan semangat kewirausahaan ini tidak hanya harus dimiliki oleh para pengusaha saja, melainkan sangat perlu dimiliki oleh profesi dan peran apa saja dalam berbagai fungsi yang berbeda, termasuk khususnya profesi pendidik seperti guru atau dosen, bahkan siswa dan mahasiswa.

Produk inovasi dan kreatifitas lembaga pendidikan merupakan ekspresi dan aktualisasi untuk memajukembangkan institusi serta menaikkan citra positif lembaga, sehingga tingkat kepercayaan masyarakat sebagai user (pengguna) semakin meningkat. Usaha-usaha yang mencakup pada produk-produk pendidikan, seperti; prestasi akademik dan non akademik, karya tulis/ilmiah guru maupun siswa, serta inovasi dan kreatifitas warga sekolah/madrasah dalam menciptakan media pembelajaran yang berhaluan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga bisa dimanfaatkan lebih luas untuk kesejahteraan manusia secara umum, serta membantu memudahkan pekerjaan-pekerjaan masyarakat yang berhubungan dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi.

BACA JUGA:   Randi dan Yusuf, Aktivis Sebenarnya Versi Munir

Integrasi Edupreneurship Dalam Kurikulum Pendidikan
Edupreneurship sebenarnya bukan merupakan suatu sistem aplikatif yang baru muncul dalam dunia pendidikan, namun karena dinamika kehidupan yang kompleks sehingga mengakibatkan gerakan pembaharuan pendidikan ini tenggelam dan jarang muncul dipermukaan, seiring dengan terlenanya masyarakat dengan situasi dan kondisi yang dihadapi khususnya di masa pandemi covid-19 ini. Jika edupreneurship beserta dengan produk-produk pengembangannya benar-benar menjadi habit dan budaya dalam memajukembangkan lembaga pendidikan oleh para pengelolanya, bukan tidak mungkin tantangan zaman abad XXI mulai bisa terurai pangkal masalah dan dipecahkan jalan keluarnya.

Untuk mewujudkan semua itu maka segenap insan pendidik era millenial ini, harus mengupgrade kapasitas dan kompetensi sesuai dengan kebutuhan zaman, misalnya terkait IT dengan aplikasi-aplikasi pendukung pembelajaran, pengetahuan, temuan temuan baru, strategi, model dan metode pembelajaran yang inovatif yang sangat dibutuhkan, agar tercapai tujuan nasional pendidikan yang akan mampu melahirkan generasi emas milenial dengan tangan terampil, otak cemerlang dan berkarakter baik.
Jika pendidik tidak mau mengupgrade diri dengan keluar dari zona nyaman, maka akan terisolasi dari interaksi peradaban, karena acuh dan tak mau tahu dengan tuntutan dan tantangan yang ada.

Generasi millenial sebagai subyek pembelajar akan bosan dengan rutinitas yang monoton akibat tidak ada inovasi dan kreatifitas pendidik. Apalagi era digital ini, perkembangan IT selalu mengiringi tumbuh dan berkembangnya generasi milenial. Strategi dan metode pembelajaran yang mampu memotivasi peserta didik sangat dibutuhkan. Seorang pendidik harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dengan student center sebagai subyek bukan obyek, niscaya kehadiran seorang pendidik akan selalu dirindukan, sehingga akan terwujud generasi emas yang mampu bersaing dalam kanca global dan tujuan pendidikan nasional akan tercapai.

Pendidik yang berani keluar dari zona nyaman dengan terus meningkatkan kapasitas diri pada akhirnya akan mampu menciptakan lingkungan pembelajaran yang memberikan kecakapan abad XXI. Kebijakan baru berupa merdeka belajar yang menghapus UN yang diganti dengan Assesment Nasional (AN) yang terdiri dari AKM (Asesment Kompetensi Minimum), Suter (Survei Karakter) dan Sulijar (Survei Lingkungan Belajar) yang diterapkan mulai tahun ajaran 2021 menjadi indikator adanya perubahan pada sistem evaluasi pendidikan dari Pemerintah, yang menilai kualitas layanan pendidikan di satuan pendidikan dengan tujuan untuk perbaikan dan peningkatan kualitas belajar peserta didik secara berkelanjutan. Perubahan pada sistem evaluasi pendidikan oleh pemerintah harus didukung juga dengan evaluasi yang dilakukan pendidik, yang harus sesuai tuntutan UU Sisdiknas, pasti hasilnya akan lebih membanggakan.

BACA JUGA:   Randi dan Yusuf, Aktivis Sebenarnya Versi Munir

UU Sisdiknas (pasal 58) menjelaskan evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik harus juga mampu memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan, dan itu hanya bisa dilakukan oleh pendidik yang mau dan mampu upgrade diri terkait kompetensi yang dimiliki. Apalagi pada era wabah pandemi Covid-19 seperti saat ini pembelajaran dilakukan secara daring, otomatis penilaiannya juga daring dengan menggunakan aplikasi yang dikuasai yang menuntut adanya penguasaan IT.

Penilaian terhadap proses dan hasil belajar tetap harus dilakukan, supaya dapat melakukan penilaian holistik meliputi kompetensi sikap, ketrampilan dan pengetahuan.

Dibutuhkan sikap kreatif inovatif dari seorang pendidik dalam proses pembelajaran, sehingga akan dihasilkan peserta didik sebagai generasi yang kompetitif dan mampu bersaing dalam kanca global. Pada kurikulum 2013, penilaian kompetensi keterampilan yang dilakukan pendidik harus berdasarkan pada keterampilan 4C (Critical Thinking, Creative, Communication, dan Collaboration). Untuk penilaian kompetensi sikap dititikberatkan pada beberapa karakter, seperti; nasionalisme, kemandirian, religiusitas, integritas dan gotong royong, sedang untuk penilaian kompetensi pengetahuan harus dengan model penilaian HOT (High Order Thingking).

Kurikulum pembelajaran yang terjadi juga harus menumbuhkembangkan kemampuan literasi (numerasi, bahasa, sains, digital, finansial, budaya dan kewargaan). Apalagi saat ini diusahakan harus mengintegrasikan STREAM (Science, Technology, Religion, Engineering, Art, Mathematics). Tentu saja pendidik adalah sebagai penggeraknya, maka tidak akan ada ketenangan dalam menjalani profesi jika tidak mau mengupgrade diri, dengan tetap duduk tenang di zona nyaman.

Akhirnya, Penulis ingin mengajak kepada seluruh pembaca bahwa sikap bijak yang harus ditempuh terhadap dan untuk menjawab tantangan dan perubahan zaman, adalah mau menerima perubahan dan menganggap diri laksana sebuah gelas yang tidak akan pernah penuh, sehingga diri masih ada motivasi untuk mau belajar terkait tantangan yang dituntut dalam tugas dan tanggungjawab, dan edupreneurship menjadi modal penting dalam proses belajar tersebut.


*****
*) Oleh : Agus Sugito, S.Th.I., M.Pd (Tenaga Pendidik di MA Pesantren Ummusshabri Kendari)
*) Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis.
*) Kolom Opini ini terbuka untuk umum, dengan menuliskan opini maksimal 850 kata dan mengirimkan ke e-mail asumsirakyat@gmail.com, serta melampirkan foto, kontak dan riwayat diri secara singkat

Share :

Baca Juga

Kolom Asumsi

Menyepi itu Penting, Mengapa?

Kolom Asumsi

Pemuda Bangkit Berikan Hal Positif Untuk Bangsa

Asumsi Rakyat

Dulu Menjadi Singasana, Sekarang Terbakar

E-Koran

E-Koran Edisi #10

Asumsi Rakyat

Dirgahayu Konkep Ke-8 Tahun, “Wawonii Bayang-bayang di Masa Depan”

Kolom Asumsi

Menelisik Keseriusan Pemda Konawe Dalam Menyejahterakan Buruh Pada Tahun 2021

Gaya Hidup

Antara Obat dan Gula, “Pahit atau Manis”

Kolom Asumsi

Mahasiswa dan Perannya