Home / Nasional

Minggu, 13 Desember 2020 - 10:42 WIB

Harga Naik Dan Ada Tanda Bahaya Rokok Tak Mempengaruhi Angka Konsumtif

Ketgam: ilustrasi rokok ( sumber google)

Ketgam: ilustrasi rokok ( sumber google)

JAKARTA – Meski berbahaya dan harga rokok naik namun, upaya itu bijaksana tak terlalu berpengaruh bagi perokok. Banyak perokok yang tetap nekat melanjutkan kebiasaan mereka.

Melihat kondisi itu, psikolog Mira Amir memberikan pandangannya soal alasan yang membuat orang merokok tetap nekat meski ada peringatan bahaya dan kenaikkan harga.

“Ada menemukan penelitian, sesuatu yang buruk itu bertahan lebih lama, lebih lama bertahan, lebih cepat diadopsi. Ini cara kerja otak,” ujarnya.

Di lansir dari CNN Indonesia Menteri Keuangan Sri Mulyani mengumumkan kenaikan tarif cukai rokok rata-rata sebesar 12,5 persen pada Kamis 12 Desember 2020.

Keputusan ini diambil dengan memperhatikan keberlangsungan hidup tenaga kerja di industri terkait petani tembakau maupun industri itu sendiri.

Kenaikan cukai rokok atau cukai hasil tembakau (CHT) tentu akan berimbas pada harga rokok.

Namun dengan kebiasaan merokok, apakah harga naik bakal membuat perokok berhenti membeli rokok?

kondisi itu, psikolog Mira Amir memberikan pandangannya soal alasan yang membuat orang merokok tetap nekat meski ada peringatan bahaya dan kenaikkan harga.

“Ada menemukan penelitian, sesuatu yang buruk itu bertahan lebih lama, lebih lama bertahan, lebih cepat diadopsi. Ini cara kerja otak,” ujarnya

Mira juga mengatakan, “Malah sesuatu yang positif itu lama banget menempelnya. Kebiasaan baik, misal pakai masker, lama menempelnya, Begitu nempel, cepat sumpah.”

Ada banyak faktor yang membuat kebiasaan buruk, termasuk merokok, awet dilakukan. Menurut Mira, salah satunya adalah faktor individu yang tidak cukup kuat secara mental juga faktor lingkungan.

Faktor individu, misal, bungkus rokok memang menyematkan gambar paru-paru busuk. Namun kebiasaan merokok tetap tetap karena merasa penyakit tidak terjadi pada dirinya.

Faktor lingkungan, kadang orang merokok karena berada di lingkungan yang memang merokok.

Mira kadang orang yang sudah tidak merokok pun bisa kembali merokok lagi karena pergaulan walau batang rokok yang terbakar tidak sebanyak dulu.

“Saya menemukan begini, manusia kan perlu kebermaknaan dalam tiap momen, kita akan mengendap, jadi melakukan sesuatu itu enggak sambil lalu, mindful,” katanya.

Mira menerjemahkan kebermaknaan sebagai kewaspadaan, kesadaran juga memenuhi syarat dalam satu momen. Merokok jadi sarana orang untuk tetap ‘menapak’ atau ‘berpijak’.

Di sisi lain, ada pula yang menjadikan rokok sebagai alat bantu sehingga lebih santai, khususnya dalam satu obrolan agar bisa lebih lepas dan terbuka.

“Tidak semua orang bisa mengacu pada kondisi. Jadi ketika kita memutuskan untuk berhenti merokok, kebermaknaan saya di apa selain merokok?” tambahnya.

Faktor psikologis dan kandungan zat-zat kimia rokok memainkan peran dalam kebiasaan merokok. Namun bukan kebiasaan buruk ini tidak bisa.

Anda harus melihat prioritas atau alasan berhenti merokok. Mira kata mereka yang berhasil berhenti merokok berarti meletakkan prioritasnya misal faktor ekonomi atau kesehatan.

Faktor ekonomi contoh, dompet mulai tidak terganggu, sementara kebutuhan banyak. Ini banyak terjadi pada mereka yang sudah berumah tangga.

Kemudian saat kesehatan tidak terganggu seperti sesak napas bahkan serangan jantung, tentu kondisi ini tidak sebanding dengan nikmat yang diberikan rokok.

“Yang menjadikan rokok alat bantu untuk rileks, maka perlu mandiri tanpa alat bantu. Saya saat praktik terapi banyak menemukan mereka yang terhambat untuk bisa menemukan kondisi nyaman, tidak terikat dengan hal memberatkan,” katanya.

Jadi saat konsultasi, pasti ditanyai hambatannya apa sih? Oke, alasannya ini, tapi kalau digali akan ada hal-hal lain.

BACA JUGA:   SKPP Bertujuan Mencetak Kader Yang Partisipatif
BACA JUGA:   Dikabarkan Data 10 Kementerian Dibobol Hacker China, Polri : Masih Aman

(*Bang Kune/Asumsirakyat.id)

Share :

Baca Juga

Asumsi Rakyat

PB PMII Sayangkan Sikap Unmuh Babel Soal Intimidasi Ke Mahasiswa

Daerah

Harlah Pancasila, Ka KanKemenag Kendari : Santri Harus Miliki Jiwa Nasionalisme Yang Kuat

Nasional

Anggota Paskibraka Asal Sultra Resmi Dilantik Presiden RI

Nasional

Ombudsman Imbau Rumah Sakit Belum Layak Mendaftarakan Vaksin Covid- 19, Ini Alasannya

Bisnis

Usai Putuskan Dukung Arsjad, Ini Permintaan Ketua Kadin Sultra Pada Munas di Bali

Hukum

HRS Resmi ditahan Polda Metro Jaya, Kuasa Hukum ; Masih Ada Dua Langkah

Asumsi Rakyat

Mudik Dilarang Wisata Dibuka, DPR Heran Dengan Kebijakan Pemerintah

Nasional

Pemerintah Diminta Evaluasi PPKM