Home / Himayah NU Sultra / Kolom Asumsi / Opini

Jumat, 19 Februari 2021 - 22:34 WIB

Islamofobia dan Kode Etik Dakwah Nabi Muhammad

Hingga kini, meski minat sebagian besar perguruan tinggi dan masyarakat di Eropa-Amerika terhadap Islam semakin meningkat, ternyata menyisakan kekhawatiran bahwa Islam akan menjadi ancaman dan perlahan menggusur tatanan lama atau status quo. Stereotype tentang Islam pun bermunculan dan memenuhi ruang publik. Kekhawatiran atau ketakutan bahwa Islam akan menjadi ancaman ini disebut dengan islamophobia.

Islamofobia sendiri dimaknai sebagai sebuah terma yang lahir karena ketakutan dan diskriminasi terhadap Islam. Adanya terma tersebut seolah-olah Islam itu disudutkan dan didiskreditkan. Hal itu timbul diakibatkan kesalahpahaman terhadap Islam itu sendiri. Islam itu damai dan cinta damai. Terbukti hal itu merujuk pada pengertian Islam secara etimologi yaitu yang berarti selamat, damai, dan patuh ( al-Munawir, 1984: 669).

Masalah yang mencuat di lapangan ketika oknum yang men- gatasnamakan Islam membawa ajaran agama tersebut dengan keras dan menyimpang. Sehingga Islamofobia timbul menjadi pro- duk untuk menghancurkan Islam itu sendiri. Padahal Allah swt berfirman, “Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada pula orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barang siapa yang taat maka mereka itu benar-benar telah telah memilih jalan yang lurus.” (QS: Al- Jin/72:14) Ayat al-Quran di atas menunjukkan bahwa orang-orang Islam yang taat akan membawa maslahat bagi umat.

Justru sebaliknya jika orang-orang Islam yang ketaatannya belum maksimal maka akan menimbulkan keresahan. Orang-orang yang ketaatannya masih setengah-setengah mudah dipengaruhi oleh sekte kanan atau kiri. Sehingga mereka akan terbawa kepada arus ekslusivitas dalam keberislaman. Sehingga mereka membentuk wacana memaksakan dan mengkafirkan muslim lainnya.

BACA JUGA:   Curi Star Pemilu 2024, Pandemi menjadi Ajang Cari-cari Perhatian Masyrakat

Maka arus ekslusivitas tersebut yang akan menyampaikan metode dakwah yang tidak mengikuti Nabi Muhammad. Sampai hal tersebut menjadi pemicu konflik di masyarakat dan timbullah terma Islamofobia. Maka untuk meredam Islamofobia itu, seorang pendakwah harus memperhatikan kode etik dakwah Nabi Muhammad. Kode etik dakwah Nabi Muhammad ialah cara-cara menyampaikan ajakan atau seruan kepada orang lain atau kepada pihak-pihak yang didakwahi dengan cara Nabi Muhammad yaitu amar ma’ruf bil ma’ruf dan nahi munkar bil ma’ruf (Mustofa Yakub:1997:36).

Etika dakwah nabi Muhammad yang pertama yaitu tidak memisahkan antara ucapan dan perbuatan. Artinya apa yang beliau perintahkan maka beliau telah terlebih dah ulu mengerjakannya. Sedangkan apa yang beliau larang terlebih dahulu beliau meninggalkannya. Maka hal tersebut sesuai dengan ayat al-quran, “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan hal-hal yang kalian tidak melakukannya? Amat besar murka di sisi Allah, bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan (QS al-Shaff, 2-3).

Etika dakwah Nabi yang kedua yaitu toleransi agama. Toleransi (tasamuh) memang dianjur- kan oleh Islam. Tetapi dalam batas- batas tertentu dan tidak menyang- kut masalah agama (akidah). Dalam masalah akidah, Islam mem- berikan garis tegas untuk tidak berkompromi, bertoleransi dan sebagainya. Ketika Nabi Muhammad masih tinggal di Mekkah, orang-orang musyrikin mencoba mengajak Nabi Saw.

BACA JUGA:   Cinta, Puncak Ajaran, Dan Esensi Agama

Untuk melakukan kompromi keagamaan. Kata mereka, “Wahai Muhammad ikutilah agama kami, kami pun akan mengikuti kamu. Kamu menyembah Tuhan-Tuhan Kami selama satu tahun nanti kami juga menyembah Tuhanmu satu tahun pula. Apabila ternyata aga- mamu yang benar maka kami pun sudah memperoleh kebenaran tersebut. Apabila agama kami yang benar, maka kamu pun telah mem- peroleh kebenaran itu.” Mendengar ajakan tersebut maka Nabi Saw berkata, “Saya mohon perlindungan Allah agar tidak mempersekutukan-Nya dengan yang lain.”

Kemudian surat al- Kafirun sampai kepada Nabi, yang intinya orang-orang muslim tidak diperkenankan menyembah sesembahan orang-orang nonmuslim. Sedangkan orang-orang yang diluar Islam tidak perlu menyembah sesembahan orang-orang muslim.

Etika dakwah Nabi yang ketiga yaitu tidak mencerca sesembahan lawan. Artinya biarlah orang-orang non muslim menyembah sesembahannya asalkan tidak mengganggu muslim.

Hal ini senafas dengan QS: al-An’am:108, “Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah Swt, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.”

Etika dakwah Nabi yang keempat yaitu Nabi Muhammad tidak melakukan diskriminasi sosial di antara orang-orang yang didakwahi . Beliau tidak mementingkan orang-orang kelas elit saja, sedangkan orang-orang kelas bawah dinomorduakan. Bahkan Nabi Muhammad pernah ditegur oleh Allah Swt, tatkala beliau hanya berdakwah di kalangan elit. Yang saat itu datang Abdullah bin Ummi Maktum, seseorang dari kalangan menengah ke bawah, yang saat itu tidak tahu bahwa Nabi Muhammad sedang menerima tamu pembesar-pembesar Quraisy yaitu Utbah bin Rabiah, Abu Jahl, Abbas bin Abd al- Muthalib, Ubay bin Khalf, dan Umayyah bin Khalf. Abdullah bin Ummi Maktum yang saat itu bertanya berkali- kali kepada Rasulullah. Namun nabi tidak memberikan respon atau jawaban atas pertanyaan tersebut. Akhirnya Nabi Muhammad merasa kesal, mukanya cemberut, dan berpaling tidak mau melayaninya dan hanya melayani pembesar-pembesar Quraisy. Sikap Nabi langsung dikritik oleh Allah swt, Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya (QS ‘Abasa:1-2).

BACA JUGA:   Muharram Dan Bulan Kemerdekaan Kita

Maka sejak saat itu apabila Abdullah bin Ummi Maktum menghadap Nabi Muhammad, beliau selalu menyambut dan menghormatinya, seraya berkata “Selamat datang wahai orang yang telah menyebab- kan diriku ditegur oleh Allah swt.” Tidak memungut imbalan.

Suatu hal yang penting dalam dakwah nabi Muhammad dan nabi-nabi sebelumnya, beliau tidak pernah memungut imbalan dalam dari pihak-pihak yang didakwahi. Beliau hanya mengharapkan imbalan dari Allah Swt. Sebagaimana Allah berfirman, Katakanlah, Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka hal itu untuk kamu (karena aku tidak minta upah apapun kepadamu). Upahku hanyalah dari Allah, Dia mengetahui segala sesuatu (QS: Al-Saba:74).

Melihat kenyataan hari ini menjadi sangat penting untuk terus menyebarkan metode dakwah yang sesuai ajaran Nabi Muhammad. Wallahu A’lam.


Oleh : Himayah NU Sultra

Share :

Baca Juga

Kolom Asumsi

Perppu Berpotensi Melanggar Konsistusi (Corona Disease 19 Sebagai Alat Legitimasi Kekuasaan)

Opini

Curi Star Pemilu 2024, Pandemi menjadi Ajang Cari-cari Perhatian Masyrakat

Himayah NU Sultra

Mengokohkan Bangsa Melalui Penguatan Akhlakul Kharimah

Himayah NU Sultra

Radikalisme VIS –A-VIS Islam Ramah

Kolom Asumsi

Lafal Dzikir Menjelang Tidur

Opini

Inspirasi Memulai Suatu Karya, Asal Mau Memulai Jangan Takut Dengan Kritik

Opini

1 Juni, Refleksi Pancasila Sebagai Ideologi Terbaik Bangsa

E-Koran

E-Koran Edisi #7