Home / Kolom Asumsi

Sabtu, 13 Februari 2021 - 01:34 WIB

Jangan Minder, Nilai Guru Bukan Rp700 Ribu

Siang tadi saya begitu asyik bercanda dengan kawan-kawan saya disekitaran pelataran kampus. Eh!! Tiba tepat di pukul 00.19 WITA saya mengecek Gadget saya. Ternyata hari ini saya kurang update, begitulah bahasa trendnya. Dalam Platform berita yang saya temukan disalah satu media online, terdapat sebuah berita yang ramai saat ini dihebohkan netizen. Pasalnya, berita yang terjadi di Provinsi Sulawesi Selatan itu membahas tentang guru honorer 15 tahunan dipecat hanya karena memosting gajinya yang senilai Rp700 ribu di media sosial.

Saat ini, berita tersebut begitu menghebohkan publik. Mungkin saja lantaran peduli kepada guru honorer itu. Kasian guru itu yah!!. Namun, disini saya tidak akan lebih banyak mengulas tentang berita tersebut. Saya lebih akan menjelaskan terkait pentingnya menghargai jasa seorang guru.

Perlu kita pahami bahwa guru merupakan poros utama pendidikan. Merekalah penentu kemajuan suatu negara di masa depan. Berarti, secara umum, tugas guru adalah mengajari anak didiknya agar dapat memiliki pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni. Selain itu, guru memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman kepada anak didiknya untuk lebih menjunjung tinggi sikap dan tingkah laku baik, entah itu ketika berada di lingkungan sekolah maupun ketika di lingkungan masyarakat.

BACA JUGA:   Randi dan Yusuf, Aktivis Sebenarnya Versi Munir

Nah, biyar lebih jelas, saya akan sedikit membahas tentang bagaimana selama ini peran-peran guru dalam memajukan sebuah negara. Berikut ulasan saya, Semoga bermanfaat.

Dahulu, saat Jepang luluh lantak akibat bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat di Kota Hiroshima dan Nagasaki segala hal kehancuran terjadi. Menariknya, Kaisar Jepang saat itu hanya bertanya “Masih ada berapa guru di negeri ini yang masih hidup?”. Ketika dijawab masih ada cukup guru yang masih hidup, Kaisar itu berkata : “Kita masih bisa membangun negeri ini”.

Presiden Jokowi, setelah empat tahun menguatkan infrastruktur, kini melakukan pergeseran strategi pembangunan nasional dengan menguatkan sumber daya manusia (SDM). Sehingga itu, peranan guru sebagai pendidik menjadi begitu penting. Tak bisa dimungkiri, Guru merupakan ujung tombak pembangunan SDM. Bahkan, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy juga pernah menegaskan bahwa peran guru sebagai pendidik tak bisa digantikan dengan profesi lain maupun itu teknologi.

BACA JUGA:   Refleksi Hari Tani Nasional Kini dan Nanti

Guru merupakan satu unsur yang begitu penting dalam suatu pembangunan SDM. Tanpa mereka, pembangunan SDM hanya akan menjadi slogan dan pencitraan saja. Sebab, segala bentuk kebijakan dalam sektor pembangunan SDM pada akhirnya yang akan menentukan tercapai dan tidaknya adalah mereka. Mereka adalah titik sentral dan awal dari semua pembangunan SDM.

Terdapat sebuah narasi, yang secara tidak langsung telah memberikan tanggung jawab besar dalam pembentukan generasi berkepribadian anak didiknya. “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Narasi tersebut akhirnya melahirkan konsekuensi, ketika ada anak didik yang bermasalah maka orang pertama disalahkan adalah guru. Sungguh besarnya tanggungjawab guru-guru kita.

Sesungguhnya, tidak berlebihan juga ketika kita harus menjunjung tinggi penghargaan kepada guru. Pahlawan tanpa tanda jasa, merupakan ungkapan yang menggambarkan guru layak disebut sebagai seorang pahlawan. Karena, atas jasa-jasa dalam proses pentransferan pengetahuan dan nilai akhirnya dapat dirasakan sepanjang hayat.

BACA JUGA:   Kakanwil Kemenag Sultra Harap Guru Dapat Beradaptasi Dengan Teknologi

Beberapa peristiwa akhir-akhir ini, baik dari media massa dan elektronik telah menyajikan kondisi yang jauh telah bergeser. Di televisi kita melihat guru yang secara terang-terangan digambarkan dengan sosok yang culun. Kita juga disuguhkan informasi perlakuan terhadap guru yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Bahkan, siswa juga sudah tidak takut lagi untuk bersikap kasar hingga menghabiskan nyawa gurunya dan bahkan laporan yang diberitakan di media online tentang guru dipecat karena memosting gajinya Rp700 ribu merupakan fenomena yang tak semestinya dilakukan sebuah instansi sekolah.

Potret tersebut, sekalipun menghilangkan tanggung jawab seorang guru, tetapi paling tidak telah menggeser posisi guru sebagai sosok yang terus harus dihormati. Harus kita akui, kemampuan yang dimiliki sebagai buah dari upaya yang dilakukan oleh guru harus terus kita syukuri. Bentuknya adalah dengan tidak berhenti berterima kasih, termasuk tetap menghargai jasa seorang guru.

***

Oleh : Muh. Rifky Syaiful Rasyid

Penulis merupakan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)

Share :

Baca Juga

Kolom Asumsi

Jangan Buat Ukuran Cantik Untuk perempuan

Himayah NU Sultra

Islamofobia dan Kode Etik Dakwah Nabi Muhammad

Kolom Asumsi

Perppu Berpotensi Melanggar Konsistusi (Corona Disease 19 Sebagai Alat Legitimasi Kekuasaan)

Kolom Asumsi

Tiga Kecerdasan Penting yang Mesti dimiliki Pemuda Indonesia

Kolom Asumsi

Sosok Perempuan Tangguh

E-Koran

E-Koran Edisi #12

Kolom Asumsi

HARI BURUH,¬†Khiroto Alam Achmad : “Issu dan Gerakan”

Kolom Asumsi

Menelisik Keseriusan Pemda Konawe Dalam Menyejahterakan Buruh Pada Tahun 2021