Home / Himayah NU Sultra

Jumat, 26 Februari 2021 - 14:42 WIB

Kemanusiaan Mendahului Sikap Keberagamaan

Agama selalu menganjurkan sikap kemanusiaan, ketika agama melarang manusia untuk berbuat, maka esensinya agama melarang kerusakan-kerusakan yang dapat mengurangi nilai-nilai kemanusiaan. Begitupun sebaliknya apabila agama memerintahkan manusia untuk berbuat, sesungguhnya agama mengembalikan manusia kepada kemanusiaannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa semua agama mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, dan juga tidak dapat dipungkiri bahwa tidak sedikit tindakan-tindakan manusia yang bertentangan dengan kemanusiaan dengan mengatasnamakan agama. Dalam hal ini ajaran agama tergantung kepada pemahaman manusia terhadapnya, karena sering kali agama dipahami secara sangat tekstual sehingga, disadari atau tidak, telah melepaskan agama dari sejarah risalahnya. Dengan demikian, maka tidak heran ketika seorang beragama kemudian menjadi keras dan begitu pula yang men- jadi lemah lembut serta hilang nilai-nilai kemanusiaannya.

Misi risalah atau tujuan diutusnya Rasulullah Muhammad SAW ke dunia adalah untuk membawa dan menebar rahmat dan kasih sayang kepada alam semesta. Misi risalah kenabian bersifat universal untuk semua manusia, tidak hanya untuk mereka yang beriman, tetapi juga bagi mereka yang tidak beriman. Rahmat dan kasih sayang mencerminkan Islam yang ramah, santun, toleran, dan penuh dengan cinta damai. Islam tidak menebarkan kebencian dan permusuhan. Dewasa ini ada sebagian orang-orang yang dengan sadar dan sengaja menabrak dan bahkan melindas habis kemanusiaan yang dijunjung tinggi dalam agama. Bahkan dalam praktiknya tidak sedikit sebagian orang menggunakan slogan “atas nama agama” untuk membenarkan dan melegitimasi tindakan yang salah jalan tersebut.

Akhir-akhir ini dalam masyarakat kita menunjukkan adanya pemahaman ajaran agama Islam secara tekstual, kaku dan eksklusif. Pemahaman secara tekstual memunculkan doktrin kebenaran sepihak dan hak justifikasi atas kesalahan kelompok lain yang dianggap tidak sepaham.

BACA JUGA:   Muharram Dan Bulan Kemerdekaan Kita

Pemahaman ini semakin mempertajam perbedaan yang menjadi sunnatullah. Masyarakat terjebak dalam formalitas agama dan tidak jarang mengabaikan kemanusiaan yang dijunjung tinggi oleh agama itu sendiri.

Semangat untuk meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW yang ramah, santun, cinta damai, toleran, dan penuh kasih sayang harus terus diaktualisasikan dan dikontekstualiasikan dengan semangat zaman sebagai bentuk tanggung jawab seorang muslim baik secara individual maupun sosial.

Habib Ali Al-Jufri menulis buku dengan judul Al Insaniyyah qobla at-Tadayyun (Kemanusiaan mendahului sikap religius). Habib Ali hendak memisahkan agama dan pandangan serta sikap keberagamaan. Dalam buku ini Habib Ali menjelaskan cara Rasulullah SAW menyampaikan risalah dengan menyebutkan tiga hal. Pertama, menyambung silaturrahim (jaminan keamanan masyarakat). Kedua, melindungi darah (perlindungan terhadap kehidupan) dan yang Ketiga, mengamankan jalan (keamanan publik).

Setelah itu baru Rasulullah berbicara mengenai religiusitas yakni, menghancurkan berhala (amar makruf nahi munkar) serta sikap kukuh bertauhid hanya menyembah kepada Allah (wilayah dakwah). Dengan jaminan sosial, kehidupan, dan keamanan publik itu barulah kemudian masyarakat dapat beribadah secara khusyuk dan tenang. Mendahulukan rasa kemanusiaan dari sikap keberagamaan telah ditunjukkan oleh Islam dalam bentuk saling menghargai pendapat, selama perbedaan tersebut masih dalam wilayah cabang (furu’iyyah). Misalnya dicontohkan oleh Imam Syafi’i ketika berziarah ke makam gurunya Imam Abu Hanifah. Pada saat waktu sholat subuh, Imam Syafi’i tidak membaca doa qunut.

Hal tersebut jelas menyalahi pendapatnya sendiri yang menyunahkan membaca doa qunut pada rakaat kedua sholat subuh. Alasan Imam Syafi’i adalah menghormati shohibul maqom yaitu Imam Abu Hanifah yang tidak membaca qunut pada saat sholat subuh.Praktik keagamaan seseorang sangat dipengaruhi dari pemahaman dan cara pandangnya. Pemahaman keagamaan seseorang ditentukan dari model pendekatan yang digunakannya dalam memahami sumbernya. Sumber dalam memahami agama Islam yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dalam memahami teks-teks suci terdapat dua model pendekatan yang digunakan, yaitu pendekatan tekstual dan pendekatan kontekstual.

BACA JUGA:   Radikalisme VIS –A-VIS Islam Ramah

Pendekatan tekstual merujuk pada terminologi teks. Kata teks, yang dalam bahasa Arab disebut sebagai nash, yang berarti lafal yang hanya bermakna sesuai dengan ungkapannya dan tidak dapat dialihkan pada makna yang lain. Sedangkan konteks dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna; situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian.
Pemahaman agama dengan pendekatan tekstual cenderung normatif, kaku, sempit, dan bersifat statis. Pendekatan tekstual akan melahirkan pemahaman dan doktrin keagamaan yang bersifat ekslusif dan fundamentalis. Hal ini disebabkan karena kehidupan manusia berjalan secara dinamis dan semakin kompleks. Terjadi kontradiksi antara teks dengan karakternya yang statis berikut segala keterbatasannya dengan kehidupan dan praktik keagamaan seseorang yang berjalan dinamis.

Sedangkan, pendekatan kontekstual merupakan model pendekatan yang mengacu pada dimensi konteks yang tidak semata-mata bertumpu pada makna teks secara lahiriyah, tetapi juga melibatkan dimensi sosio-historis yang elingkupinya serta keterlibatan sang penafsir dalam aktifitas penafsirannya.

Islam sebagai agama yang membawa misi kedamaian, keselamatan, dan kebahagiaan hidup bagi manusia di dunia dan akhirat. Dalam penyebarannya Islam dapat tumbuh dan dianut oleh masyara-lkat luas dak dilakukan dengan paksaan dan cara-cara kekerasan, melainkan dengan jalan yang damai, bijaksana, santun, dan mengedepankan pendekatakan dialogis. Penyebaran Islam yang dipenuhi dengan nilai-nilai cinta damai dan kasih sayang ini sejalan seiring dengan misi risalah Nabi Muhammad. Misi risalah atau tujuan diutusnya Nabi Muhammad SAW ke dunia ini tidak lain adalah untuk memberikan rahmat dan kasih sayang kepada seluruh alam semesta. Misi risalah yang dibawa Nabi secara tegas disebutkan Allah SWT dalam Al Qur’an: “Dan tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al Anbiya’: 107). Ayat tersebut, menjelaskan tujuan diu-tusnya Nabi Muhammad ke muka bumi ini secara eksplisit dan tegas, agar Nabi Muhammad dapat menebar dan menyampaikan rahmat atau kasih sayang Allah kepada seluruh alam semesta. Rahmat dan kasih saying mencerminkan Islam yang ramah, santun, toleran, dan penuh dengan cinta damai. Islam tidak menebarkan kebencian dan permusuhan.

BACA JUGA:   Mengokohkan Bangsa Melalui Penguatan Akhlakul Kharimah

Kehadiran risalah kenabian tidak hanya ditujukan bagi mereka yang muslim saja, tetapi juga bagi mereka yang non muslim. Tujuan diutusnya Nabi Muhammad SAW, sekali lagi tidak bertujuan untuk meng-islamkan seluruh penduduk dunia, Tujuan diutusnya Nabi Muhammad SAW tidak lain adalah untuk menebar kasih sayang dan perdamaian kepada alam semesta. Sehingga misi risalah sebagai subtansi dari Islam yang rahmatan lil ‘alamin bersifat universal yang berlaku bagi siapapun tanpa memandang suku, warna kulit, bangsa, dan agama seseo-rang. Wallahu A’lam

Buletin NU Sultra

Share :

Baca Juga

Himayah NU Sultra

Islamofobia dan Kode Etik Dakwah Nabi Muhammad

Himayah NU Sultra

Radikalisme VIS –A-VIS Islam Ramah

Himayah NU Sultra

Mengokohkan Bangsa Melalui Penguatan Akhlakul Kharimah

Himayah NU Sultra

Cinta, Puncak Ajaran, Dan Esensi Agama

Himayah NU Sultra

Islam Yang “Dipahami Salah” Dan “Disalahpahami”

Himayah NU Sultra

Muharram Dan Bulan Kemerdekaan Kita

Himayah NU Sultra

Islam Dan Kecintaan Terhadap Tanah Air