Home / Nasional / Politika

Senin, 13 September 2021 - 21:02 WIB

Pemerintah Selalu Beralasan Defisit, Utang Negara Mencapai Rp973,6 triliun

Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Ratna Juwita Sari, mengatakan kalau pemerintah saat ini selalu beralasan jika anggaran sudah defisit (Grafis : Muh. Rifky)

Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Ratna Juwita Sari, mengatakan kalau pemerintah saat ini selalu beralasan jika anggaran sudah defisit (Grafis : Muh. Rifky)

ASUMSIRAKYAT – Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Ratna Juwita Sari, mengatakan kalau pemerintah saat ini selalu beralasan jika anggaran sudah defisit. Padahal, ungkap dia, dalam laporan disebutkan bahwa APBN tahun 2022 diperkirakan mencapai defisit Rp868 triliun (4,85 persen) dan pembiayaan utang sebesar Rp973,6 triliun.

Hal di atas ia sampaikan dalam Rapat Panja Asumsi Dasar, Defisit, dan Pembiayaan RAPBN 2022 bersama pemerintah yang diselenggarakan secara online, Senin (13/9/2021).

Selain itu, Ratna juga menyayangkan Pemerintah RI terkait sikap belum mengabulkan kebutuhan riil terkait dana abadi pesantren dan penambahan dana desa oleh

BACA JUGA:   Kepala BPIP Ungkap Jumlah Peserta Sedang Pembinaan Ideologi Pancasila

“Padahal keduanya ini sudah dijamin oleh UU Nomor 18/2019 Pasal 45 dan UU Nomor 6/2014. Akibatnya kita belum melihat bagaimana desentralisasi, semangat APBN yang berkeadilan dan berkelanjutan bisa dirasakan seluruh masyarakat Indonesia,” ungkap Ratna

Oleh karena itu, Ratna pun meminta agar pemerintah bersama DPR harus melihat beban fiskal berupa defisit anggaran tersebut, dalam perspektif generasi mendatang.

Apalagi, menurut dia, anak-anak muda Indonesia ke depan akan semakin sempit menikmati ruang fiskal, yang disebabkan dari kebijakan yang diambil oleh generasi saat ini.

BACA JUGA:   Kemenag RI Launchingkan Logo Hari Santri, Berikut Filosofinya

“Karena itu, saya ingin pertegas dalam hal ini, bahwa bagaimana sebenarnya perencanaan pemerintah dalam pembayaran utang yang akan kita ambil pada tahun 2022 nanti yang rasio utang terhadap PDB menjadi 43 persen,” ucap Politisi Fraksi PKB ini.

Diketahui,  dalam rapat tersebut, Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah menyebut ada selisih antara defisit sebesar Rp868 triliun dengan pembiayaan utang Rp973,6 triliun, yaitu sebesar Rp 105,6 triliun. Namun, besaran Rp 105,6 triliun tersebut sangat tergantung pada tingkat besaran PDB pada 2022.

BACA JUGA:   Menag : Selama PPKM, Tidak Ada Lagi Penutupan Rumah Ibadah

Dengan komposisi itu, menempatkan rasio utang terhadap PDB menjadi 43 persen dan rasio utang terhadap pendapatan menjadi sekitar 51,93 persen yang terdiri dari bunga utang Rp405,8 triliun dan pokok utang kisarannya Rp550 triliun.

“Sehingga, beban utang yang harus ditanggung pada 2022 sebesar Rp955,87 triliun,” jelas Said.

Penulis : Muh Rifky

Share :

Baca Juga

Nasional

KSPI Bakal Lakukan Perlawanan Jika PPN dan Tax Amnesti Jilid 2 Diberlakukan

Nasional

SKPP Bertujuan Mencetak Kader Yang Partisipatif

Nasional

Rais Syuriah PBNU Anjurkan Warga NU Ikuti Vaksinasi Nasional

Nasional

Kader PDIP Jateng Tak Simpatik Lagi Dengan Ganjar Lentaran Ambisi Maju Capres

Nasional

KPK Ingatkan Penyelenggara Negara Laporkan Harta Kekayaan

Nasional

Gempa Bumi Sulbar, Pemerintah Tetapkan Sebagai Bencana Tanggap Darurat

Nasional

PBNU Laporkan 95 Kasus Lingkup Kemensos Kepada Kepala Staff Kepresidenan

Nasional

Hasil Swab Test Habib Rizieq Belum Jelas, Positif Atau Negatif?