Home / Muh. Rifky Syaiful Rasyid / Opini

Sabtu, 3 Juli 2021 - 14:48 WIB

PMII Untuk Mahasiswa Baru

Oleh : Muh. Rifky Syaiful Rasyid

Transisi mahasiswa untuk berorganisasi pada umumnya selalu ditandai sebuah keinginan untuk berubah secara sikap, pemikiran ataupun wawasan yang pada nantinya menuntut salah satu pergeseran dan perombakan mendasar dalam jati diri untuk menjadi unggul dari sebelumnya. Ada beberapa yang masih menjadi prasyarat penting di antara transisi berorganisasi yang sedang terjadi di pemikiran mahasiswa sampai sekarang ini, seperti contoh adanya keinginan untuk lebih fokus berprestasi dan sarjana tepat pada waktunya. Selama ini upaya kita dalam memperoleh kader biasanya terhalangi dengan fenomena tersebut, dimana banyaknya mahasiswa begitu acuh dengan peluang dalam organisasi, serta daya minatnya yang masih sangat kurang. Hal tersebut mungkin disebabkan karena mahasiswa belum mengetahui keunggulan yang didapatkan ketika berorganisasi.

Ber-mahasiswa, organisasi merupakan salah satu yang begitu penting sebab dengan itu kita akan banyak ilmu tambahan terutama prakteknya yang tidak didapatkan dalam Kelas. Selain itu pula, kita dapat mencari teman dengan maksud mengajak bergabung, sehingga dapat memudahkan kita untuk berhubungan dengan orang lain tidak hanya teman Fakultas atau Kelas kita saja tetapi juga bisa antar Kampus yang berbeda. Banyak manfaat yang akan kita dapatka, misalkan menjadi lebih disiplin terutama terhadap waktu, menghargai pendapat orang lain yang apabila berbeda pendapat dengan diri kita, melatih emosional kita menjadi terkendali, mengajarkan kita cara berbicara yang baik dan sopan didepan umum, menambah wawasan dan pengetahuan serta mengajarkan kita untuk bersikap tanggungjawab dalam mengerjakan sesuatu atau bahkan ketika memimpin sebuah kelompok.

Akan tetapi, kadang pula minat untuk ber-organisasi tidak juga tumbuh dalam diri seorang mahasiswa. Daya kurang tersebut, dapat saja dipengaruhi oleh dua factor, internal dan eksternal. Faktor internal merupakan factor yang ada dalam diri mahasiswa, seperti sikap pragmati, study oriented, manajemen waktu, serta kegiatan buruk. Sikap pragmatis sering kali menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk berproses, sebab sikap ini lebih menitikberatkan pada hasil dan kebermanfaatan saja yang berbanding terbalik dengan organisasi dimana tidak didapatkan keuntungan saja tetapi membutuhkan pengorbanan-pengorbanan yang banyak. Sikap pragmatis biasanya tumbuh ketika seorang mahasiswa tak lagi memiliki daya untuk berkarya atau berinovasi. Sedangkan study oriented merupakan julukan bagi mahasiswa yang hari-harinya Cuma kuliah pulang-kuliah pulang atau Kupu-kupu, mahasiswa seperti ini terkadang hanya memikirkan prestasi akademik dan bagaimana dapat segera menjadi sarjana. Sementara manajemen waktu berpengaruh kepada konsekuensi mahasiswa untuk menimbang mana yang lebih akan didahulukan.

BACA JUGA:   Santuni Ponpes di Kendari, PKC PMII Sultra Niatkan Untuk Randi dan Yusuf

Berbeda halnya dengan factor internal, factor eksternal atau factor yang datang dari luar individu mahasiswa, biasanya hadir karena lingkungan dan intervensi teman sejawat ataupun senior. Menurut teori sosilogi, lingkungan yang positif akan menciptakan kondisi kondusif, sebaliknya dengan lingkungan negative. Lingkungan positif biasanya menghadirkan seorang teman yang begitu progresif dan kemauan untuk berkembang. Sedangkan lingkungan negative biasanya menghadirkan kawan sejawat yang bersikap pragmatis dan hedonis.

Sebagai kader PMII, tentu kita juga menyadari, ketika kita mengadakan perekrutan anggota, kita diperhadapkan dengan tipekal pemikiran mahasiswa yang begitu pragmatis, belum lagi ditambah dengan sejawatnya yang juga pragmatis sehingga melarang untuk mengikuti proses kaderisasi PMII. Padahal jika ditimbang, PMII merupakan organisasi yang begitu positif untuk memberikan perkembangan mahasiswa. Apa mungkin karena PMII belum dikenal?

Sebagai salah satu organisasi terbesar, PMII sampai saat ini masih juga jarang dikenal dalam kehidupan kampus para mahasiswa. Pernyataan tersebut terbukti saat kita menginjakkan kaki di dunia kampus, dapat dibayangkan ketika kita tidak pernah mendengar nama PMII. “Penulis awalnya masuk di dunia kampus belum mengenal PMII, satu tahun setelahnya barulah ia mengenal PMII”. Oleh sebab itu kader semestinya juga terus memperkenalkan PMII kepada setiap mahasiswa baru secara massif, mulai dari mengadakan kegiatan-kegiatan seminar ataupun dialog-dialog yang dapat menumbuhkan daya minat mahasiswa agar tidak saja mengenal nama PMII tetapi juga melihat kulitas kader. Bukan saja memperkenalkan, tetapi bagaimana doktirinisasi dapat menghilangkan stigma dari mahasiswa yang bersikap pragmatis.

Sebagai mahasiswa baru, tentu ketika beranjak masuk ke dunia perkuliahan, banyak lontaran pertanyaan yang disuguhkan, missal contoh “Dek gabung di organisasi mana nanti?”, “Ooh, belum masuk organisasi yah? Kenapa?”. Pertanyaan tersebut pernah didengar penulis saat beranjak masuk ke semester dua, tertanya-tanya juga awalnya “Masuk organisasi apa dih?”, “Masuk atau tidak di Organisasi?”. Masa tersebutlah yang disebutkan dengan masa transisi, dimana ketika itu kita dibingungkan dengan Kuliah’to atau Aktivis yang tidak saja aktiv di kampus tetapi juga di luar kampus.

BACA JUGA:   [OPINI] #SAVE Perempuan Jember, Sahkan RUU PKS

Fokus kuliah merupakan saat dimana seorang mahasiswa harus berada pada titik pelajaran yang diberikan di perguruan tinggi atau mengikuti pelajaran di perguruan tinggi. Akan tetapi, kita perlu menyadari bahwa dengan kuliah saja bukan satu-satunya sumber pengetahuan dan bukan juga satu-satunya kegiatan belajar di perguruan tinggi. Oleh sebab itu, seorang mahasiswa perlu juga menelisik aktivitas-aktivitas positif yang ada di kampus salah satunya adalah berorganisasi.

Ber-organisasi adalah upaya untuk mencapai tujuan/ keuntungan yang bermanfaat secara bersama-sama. Dengan begitu, seorang mahasiswa dapat melatih dan menambah pengetahuan, pergaulan, kemampuan, kemandirian serta memanfaatkan sumber daya yang dimiliki. Akan tetapi banyak menjadi soal dalam benak para mahasiswa terkhusus mahasiswa baru. Mengapa begitu, saya sedikit bercerita ada juga yang lepas dari siswanya masih kenyang dengan doktrin orang tua. “Jangan masuk organisasi, nanti kuliahnya lama!!”
Saya juga pernah di kenyangkan dengan doktrin tersebut. Tetapi saja di masa itu, tak juga ada pemahaman-pemahaman yang diberikan bahwa organisasi secara jelas tidak pernah menekan anggotanya berlarut-larut dalam menempuh pendidikan di perguruan tinggi. PMII mestinya hadir disaat itu untuk memberikan pemahaman-pemahaman yang dapat menjawab stigma tersebut. Semestinya anak-anak para ulama yang dinamakan PMII menjemput kesempatan baik itu. Ini bukan soal terlalu mencari kader, tetapi bagaimana konsep bermanfaat untuk orang banyak dapat diamalkan. “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”.

Sebagai organisasi yang konsisten memperjuangkan cita-cita kemerdekaan indonesia, tentunya peran mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan amanat yang dititipkan dalam konstitusi Negara. Saya pernah kecewa dengan sikap para kader PMII yang ketika itu terlihat seakan menutup pintu untuk untuk mengenal PMII. Mengenal PMII, pada waktu semester 3 merupakan suatu keterlambatan yang menghabiskan beberapa waktu untuk merugi. Kepada kader-kader PMII, semestinya lebih aktif membuka ruang bagi para calon anggota barunya sikap pragmatis mereka dapat segera mungkin musnah.

BACA JUGA:   Di PMII Jangan Lagi Ada Judge Prematur Kepada Kader

Kader-kader PMII mestinya menyadarkan, bahwa menjadi seorang aktivis memang sangat tidak mudah, akan tetapi semua akan terasa mudah ketika kita menjalankan kewajiban aktivis yang semestinya. Tentu saja, tidak hanya menjadi mahasiswa biasa melainkan berupaya untuk menjadi mahasiswa yang dipandang luar biasa. Dengan cara apa? “Menggeluti PMII”.

Kehidupan mahasiswa memang tidak hanya sekedar belajar dikelas, tidak saja membahas teori per teori yang diberikan oleh dosen melainkan juga turut andil dalam kegiatan organisasi yang secara langsung terjun untuk melakukan praktek sebagai bentuk pengaplikasian keilmuan. Tidak hanya itu, organisasi juga membantu kita bersosialisasi dengan orang-orang disekitar kita. Misalnya mengenal teman-teman seangkatan, senior, dosen, peneliti, aktifis kampus, praktisi maupun akademisi. Dengan kedekatan-kedekatan itu akan lebih mudah bagi kita dalam mengenyam bangku perkuliahan.
Dunia organisasi akan mengajarkanmu bagaimana menyelesaikan berbagai macam rintangan atau tantangan seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, “kita akan berhadapan dengan berbagai mata kuliah dan juga tugas organisasi”. Jika mahasiswa itu cerdik, tentu ia akan dapat memanajemen waktunya agar seluruh aktivitas dalam ataupun luar kampus dapat teratasi secara bersama-sama.

Pada dasarnya kuliah merupakan menimba ilmu sebaik mungkin untuk meraih IPK yang tinggi, lulus cepat maupun tepat waktu dan jadi sarjana. “Tapi masa segitu saja pengalaman yang mewarnai masa kuliah kita?” “kan seharusnya kita dapat membuat kisah kuliah kita lebih keren bukan”. Ingat’kan ada judul lagu kisah kasih di sekolah, tapi itu saat kamu jadi siswa, sekarang level kita naik jadi Mahasiswa yang jelas punya gelar “Maha”. Gelar itulah yang akan jadi penghargaan sekaligus harus dipertanggungjawabkan.

Bagi calon mahasiswa, pastinya akan sangat merugi apabila tidak mampu untuk mengeksplor diri untuk terjun ke lingkup yang lebih luas seperti PMII. Sebab, “Kapan lagi kita dapat mengembangkan kemampuan di masa kuliah?”. Olehnya itu, sebelum akhirnya mendapat gelar sarjana, manfaatkan waktu kuliah sebaik mungkin dengan berPMII.

Penulis merupakan kader PMII Sulawesi Tenggara

Share :

Baca Juga

Asumsi Rakyat

Bom Kembali Meledak, Indonesia Harus Berantas Radikalisme Hingga Akarnya

Asumsi Rakyat

Polemik PT AKP Dan PT AKM, Polda Sultra Jangan Jadi Alat Korporasi Pertambangan

Opini

Wacana Revisi RUU KUP Mengkhianati Semangat Konstitusi Indonesia di Dunia Pendidikan

Opini

Dua Anak Sulawesi di Puncak Prestasi

Opini

Pejabat pemerintah? Pandemi Covid-19 Jangan di Jadikan Alasan

Muh. Rifky Syaiful Rasyid

17 Agustus, Negeriku, Sebagian Saja Teriak Merdeka

Muh. Rifky Syaiful Rasyid

[OPINI] Sahabat Rakyat Itu Andi Sumangerukka

Opini

Berikut Contoh Kalimat Syair-Syair Hidup