Kecamatan Cantigi Kabupaten Indramayu

Kecamatan Cantigi adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.

Batas Kecamatan Cantigi

  • Utara : Laut Jawa
  • Timur : Kecamatan Pasekan dan Kecamatan Sindang
  • Selatan : Kecamatan Arahan
  • Barat : Kecamatan Losarang

Desa Di Kecamatan Cantigi

  1. Desa Cantigi Wetan
  2. Desa Panyingkiran Lor
  3. Desa Lamaran Tarung
  4. Desa Cemara
  5. Desa Cangkring
  6. Desa Cantigi Kulon
  7. Desa Panyingkirian Kidul

Daftar Sekolah Di Kecamatan Cantigi

No.Nama Satuan Pendidikan
1MIS NU Cantigi
2MTSS NU CANTIGI
3SMA NEGERI 1 CANTIGI
4SMK NU CANTIGI
5UPTD SDN 1 CANGKRING
6UPTD SDN 1 CANTIGI KULON
7UPTD SDN 1 CANTIGI WETAN
8UPTD SDN 1 LAMARANTARUNG
9UPTD SDN 1 PANYINGKIRAN KIDUL
10UPTD SDN 1 PANYINGKIRAN LOR
11UPTD SDN 2 CANGKRING
12UPTD SDN 2 CANTIGI KULON
13UPTD SDN 2 CANTIGI WETAN
14UPTD SDN 2 LAMARANTARUNG
15UPTD SDN 2 PANYINGKIRAN KIDUL
16UPTD SDN 2 PANYINGKIRAN LOR
17UPTD SDN 3 CANTIGI KULON
18UPTD SDN 3 LAMARANTARUNG
19UPTD SDN 3 PANYINGKIRAN KIDUL
20UPTD SDN CEMARA WETAN
21UPTD SDN KERTAYASA
22UPTD SDN TAMAN SRI ENDAH
23UPTD SMP NEGERI 1 CANTIGI
24UPTD SMP NEGERI SATU ATAP 1 CANTIGI
25UPTD SMP NEGERI SATU ATAP 2 CANTIGI

Sejarah Pulomas Kecamatan Cantigi

Telusuri Pulomas, Tempat Petilasan Ratu Laut Utara. Sekian lama ini kita cuma dengar narasi legenda dari Nyi Roro Kidul yang dikenali selaku Ratu Laut Selatan, akan tetapi rupanya di sejauh pantura lantas ada legenda Ratu Laut Lor (Utara). Narasi perihal Ratu Laut Utara lantas berlainan antara satu wilayah dengan wilayah lain di sejauh pantura.

Indramayu yang punyai garis pantai yang panjang, ada narasi menarik perihal kehadiran Ratu Laut Utara pasnya di wilayah Pulomas Desa Cantigi Kulon Kecamatan Cantigi Kabupaten Indramayu. Di dalam tempat ini ada sebuah petilasan yang diyakini orang seputar merupakan persemayaman Ratu Laut Utara.

Untuk capai tempat ini, pengunjung dari arah Jakarta sebelumnya jembatan Pasar Bangkir tuju jalan ke Arah Rambatan yang memutari di bawah jembatan terus tuju Cantigi setelah itu belok ke kanan kelak ada warung cukup besar tinggal belok arah ke kanan masuk menuju tambak kelak ada tulisan Petilasan Pulomas dan telah tampak rumah kecil tempat itu.

Narasi perihal kehadiran tempat ini lantas berlainan, kami mencuplik satu diantaranya narasi dari si juru kunci sekarang ini ialah Pak Durga. Dikisahkan pada jaman waktu lampau ada seorang raja Jipang yang punyai anak yang memiliki nama Darinih, ia merupakan seorang waria karena punyai pembawaan seperti laki laki serta wanita.

Si anak raja itu mengenyam sakit yang telah lama akan tetapi tidak pulih-sembuh. Telah berobat ke beragam tempat tetap tidak pulih-sembuh. Sampai pada akhirnya ia membuat sayembara siapapun yang dapat sebagai obat anaknya bila pemuda akan dijodohkan dengan anaknya, bila sudah dewasa akan jadi bapaknya, bila wanita muda akan jadi saudaranya, bila wanita tua akan jadi ibunya.
Tetapi selesai mengucapkan ujaran itu di muka anak dan prajuritnya mendadak ada suara tiada rupa yang berbicara kalau yang bisa membuat sembuh penyakit anaknya merupakan satu orang asal dari tanah Jawa.

Rupanya yang dapat membuat sembuh putri raja itu merupakan Pangeran Cakrabuana. Mulanya Cakrabuana akan ke Tanah Suci Mekah, akan tetapi adiknya Semakin Santang pengin ikut juga dengan kakaknya. Pangeran Cakrabuana cuma ambil pelepah kelapa untuk jadi kendaraan untuk ke tanah suci karena kesaktiannya.

Sampai dari sana selesai menjalankan beribadah, rupanya adiknya Semakin Santang senang dengan wanita dari tanah suci anaknya Syekh Mudakim. Semakin Santang tinggal di tanah suci sementara kakaknya Pangeran Cakrabuana kembali lagi ke tanah Jawa.

Di tengahnya perjalanan ketujuan tanah Jawa, pelepah kelapa yang dipakainya terhempas angin dan ombak besar sampai hingga di pesisir kerajaan Jipang. Mendadak keajaiban berlangsung anak Raja Jipang yang sakit lama itu mendadak pulih.

Darinih lekas menjumpai ayahnya dan menuturkan berita gembira itu. Si Raja lalu menyuruh prajuritnya untuk cari orang Jawa yang berada di tanah Jipang. Selesai dicari-cari pada akhirnya berjumpa pun kalau orang Jawa itu merupakan Pangeran Cakrabuana. Pada akhirnya pangeran Cakrabuana yang anyar menyisir pantai wilayah itu disebut Raja ke Istana.

Ia memaparkan kalau dirinya sendiri pernah berbicara kalau barangsiapa yang dapat membuat sembuh anaknya bila pemuda akan dijodohkan dengan anaknya, bila sudah dewasa akan jadi bapaknya, bila wanita muda akan jadi saudaranya, bila wanita tua akan jadi ibunya.

Pangeran Cakrabuana pada akhirnya menyetujui kalau Nyi Darinih dijadikan sebagai anaknya. Akan tetapi Nyi Darinih bertukar nama jadi Nyi Panon Sari. Ia meminta ijin terhadap ayahnya pengin ikut serta ke tanah Jawa. Ayahnya telah memperingatkan kalau tanah Jawa belum juga sebagaimana pada negerinya yang telah ramai, di tanah Jawa masih rimba dan sepi. Akan tetapi karena ambisinya telah bundar ia pada akhirnya turut dengan Pangeran Cakrabuana.

Sebelumnya pergi ke tanah Jawa, Raja Jipang memberi beragam perbekalan untuk anaknya. Si Raja dibentuk terkejut saat Pangeran Cakrabuana bakal balik ke tanah Jawa cuma memanfaatkan pelepah kelapa saja.
Setelah tiba di tanah Jawa, Panon Sari tinggal sama ayah angkatnya Pangeran Cakrabuana. Selesai demikian lama, balik lagi ia terserang penyakit gatal-gatal di sekujur badan. Panon Sari setelah itu menyambat terhadap ayah angkatnya kalau penyakitnya tidak pulih-sembuh.

Cakrabuana merekomendasikan Panon Sari untuk lakukan bertapa mengambang di air. Panon Sari kebingungan bagaimana langkahnya bertapa mengambang di air, pada akhirnya dibuatkan sampan kecil seperti lesung. Cakrabuana menyediakan 7 perbekalan untuk anak tirinya bertapa mengambang di air itu ialah sampan sendiri, payung, gambang, kayu dengan ujung seperti ketepel, jangkar tambang emas, bokor dan bambu.

Sewaktu bertapa di sampan ia cuma mengikut arah angin, angin ke arah barat sampan ke arah barat, angin ke arah timur turut ke arah timur. Panon Sari lihat seperti laut lebih dangkal setelah itu ia ambil bambu untuk mencoba kedalamannya akan tetapi rupanya masihlah dalam. Esok satu hari wilayah ini dinamakan Tanah Muncul.

Setelah itu ia meneruskan tapanya kembali, mendadak sampannya lebih ke darat dan buang jangkarnya kembali sekalian menabuh gambang. Ia menyudahi permainan musik gambangnya karena waktu shalat udah datang.

Ia lantas ambil bokor untuk berwudhu, akan tetapi waktu ambil air ada udang yang ikut ke bokor. Rupanya udang itu dapat bercakap, ia berbicara “Duh Gusti saya lagi enak-enaknya nikmati alunan musik mendadak berhenti dan saya masuk ke bokor”. Panon Sari meminta maaf terhadap udang dan untuk mengenangnya satu hari nama wilayah itu dinamakan “Kalen Urang”.

Sesudah itu ia lantas lakukan shalat di atas sampan. Hari seterusnya sampannya ikut ke angin sampai dekati dataran setelah itu ia menabuh gambang akan tetapi waktu enak-enaknya menabuh gambang alat untuk menabuhnya jatuh ke laut. Lantas ia lantas berbicara kalau kelak di sini bakal menjadi kebuyut (tempat petilasan) “Buyut Ronggeng”. Tidaklah mengherankan untuk vokalis, dalang atau musikus yang pengin termasyhur kebanyakan mereka datang tempat ini.

Panon Sari orangnya puas sekali dengan menyanyi, sewaktu menyanyi waktu shalat udah datang. Setelah itu ia lantas ambil bokor kembali untuk ambil air wudhu, akan tetapi mendadak bokornya tentang kepala buaya putih.

Buaya putih rupanya dapat bercakap dan berbicara “saya sendang enak-enaknya dengerin lagu dari puteri mendadak berhenti dan suatu tentang kepala saya”. Lantas Puteri Panon Sari memohon maaf kembali setelah itu berbicara kelak wilayah ini akan diberinama “Kalen Kombaya”.

Sewaktu arungi sampan kembali mendadak angin dan ombak besar menimpa sampannya Panon Sari. Lantas ia lemparkan jangkarnya akan tetapi karena kuatnya gelombang dan angin jangkar itu putus. Jadi ia lantas berkata satu waktu wilayah ini dimaksud dengan “Jangkar Tambang Mas”.

Sewaktu masuk waktu shalat lalu ia lantas lekas ambil bokor untuk ambil air wudhu. Waktu mencuci telinga mendadak antingnya jatuh ke laut. Karena tidak bersusila memanfaatkan anting sisi pada akhirnya ia buang anting yang sampingnya kembali, setelah itu ia berbicara kalau kelak tempat ini disebut Pulomas.

Ketika itu air laut lagi kering hingga terlihat dasarnya. Karena jangkarnya tidak ada, selaku substitusi jangkar setelah itu ia memanfaatkan payung pemberian Pangeran Cakrabuana ayah angkatnya untuk mempelajari ke dalaman dasar laut itu. Karena tempat itu betul-betul dangkal jadi ia lantas berbicara satu waktu dinamakan Buyut Panenggeran.

Lalu Panon Sari turun ke pantai sekalian jongkok atau bahasa Jawanya Jentul sendirian. Sekalian nikmati kemegahan alam ciptaan Yang Maha Kuasa dan merenungi nasib dirinya sendiri yang belum pulih dari penyakit gatal-gatalnya. Jadi ia lantas berbicara kelak bila wilayah ini ada jadi dinamakan “Buyut Kuntul”.
Barang yang ada pemberian dari Cakrabuana tinggal bokor. Setelah itu bokor itu direndam di tanah berpasir. Jadi ia lantas berbicara satu hari kelak tempat ini akan dinamakan Buyut Bokor Kencana.

Selesai memendam bokor mendadak penyakit yang di penderitaan sepanjang tahun itu pada akhirnya pulih keseluruhan. Si Puteri lantas berbicara satu hari kelak tempat ini akan dinamakan “Buyut Karas” jadi tidaklah mengherankan tempat ini kerap didatangi oleh pengunjung yang punyai penyakit tidak pulih-sembuh dengan ijin Allah akan pulih.

Sehabis pulih dari penyakitnya ia setelah itu ia melewati rawa, akan tetapi mendadak kakinya terasa gatal-gatal. Si Puteri lantas beucap satu waktu wilayah ini dinamakan Rawa Gatel. Tetapi penting diketahui kalau Rawa Gatel juga ada di Cirebon akan tetapi tentu ceritanya berlainan dengan Rawa Gatel yang berada di Cantigi Indramayu.

Selesai pulih keseluruhan ia kembali lagi ke Cirebon menjumpai ayah angkatnya Pangeran Cakrabuana. Ia terkejut karena lihat ada seorang wanita yang cantik dan ayu menjumpainya. Panon Wati langsung berbicara “Bapak ini saya Panon Sari, anak tiri bapak”. Pangeran Cakrabuana setelah itu berbicara “Oh ini Panon Wati, kamu saat ini cantik dan ayu”.

Karena kamu telah sehat can elok kembali jadi ayah memberikan nama Nyi Mas Gandasari. Terdapat banyak nama lain dari Panon Sari ialah Nyi Mas Ronggeng, Nyi Mas Ketok, Nyi Mas Kencana dan sebagainya.

Narasi tentang Pulomas banyak memang versinya. Akan tetapi orang seputar menanggap kalau Ratu Panon Sari adalah Ratu Laut Utara yang bersemayam di dalam tempat itu. Tempat ini kerap didatangi oleh pengunjung tidak sekedar dari wilayah Indramayu dan juga dari wilayah lain. Pulomas banyak yang memiliki anggapan kalau tempat ini selaku tempat pesugihan.

Akan tetapi Pak Durga selaku juru kunci Pulomas menyangkal hal semacam itu. Dirinya sendiri menjadi orang yang kerap dengerin beragam impian dan keinginan pengunjung ke arah tempat itu telah memperingatkan bila ada pengunjung yang bermaksud lakukan pesugihan. Seluruh terkait terhadap niatan personal masing-masing. Bila dirinya sendiri yakin akan hal semacam itu jadi kebanyakan terjadi akan tetapi yang tidak yakin jadi tidak akan terjadi.

Pak Durga memberi pesan kalau zat yang menyetujui seluruh impian manusia merupakan Allah SWT, manusia tidak dapat melakukan perbuatan apapun cuma untuk penghubung. Ia mengibaratkan kalau di mana lantas manusia hidup kebanyakan ada dua segi baik dan jelek, begitu pula waktu datang sejumlah tempat seperti berikut. Ada orang yang pengin mendapati kekayaan, pangkat, trah, dan seterusnya secara lempeng juga ada secara bengkok terkait personalnya.

You might like

About the Author: Paul

Paul adalah seorang penulis dan penjelajah budaya yang memiliki kecintaan mendalam pada bahasa-bahasa daerah, termasuk Bahasa Indramayu. Kecintaannya pada bahasa dan budaya lokal ini tidak hanya menjadi sumber inspirasi dalam menulis, tetapi juga memperkaya wawasannya tentang keragaman budaya di Indonesia.